rtikel kepesantrenan-ku
Gelombang
jiwadi
Satu Atap
Bukan hal yang asing lagi bagi kalangan santri jika sering kali dihadapkan
dengan problematika yang lahir dari dalam pesantren (Intern problem). Dari mulai adanya tuntutan belajar, hafalan dan
lain sebagainya. Jika hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran itu sangat wajar.
Tapi, bagaimana jika berjubelnya masalah itu berkaitan antara pribadi dengan sesama santri yang masih
satu atap, satu komplek, bahkan satu kamar?
Maksud dari masalah pribadi dengan sesama teman santri yaitu adanya
kesenggangan hubungan atau bahkan sampai pada tahap kecemburuan sosial. Oh,
sungguh terlalu. Naasnya lagi, kesenggangan itu lahir dari hal sepele. Seperti
contoh, suatu saat santri A sedang mencari-cari sesuatu yang sangat penting.
Sehingga Si A keliling dari satu kamar ke kamar lain. Karena saking pentingnya,
pikirannya hanya terbayang oleh sosok barang yang ia cari. Sehingga ia tak sempat
berkata apa-apa saat bertemu dengan para Santri lain yang ada di sekelilingnya.
Si B, yang saat itu ada di dekatnya merasa tersinggung. Keberadaannya seperti nggak di anggap. Lantas, Si B yang
tersinggung karena nggak di sapa itu
menilai kalau A sedang marah, atau benci atau males ngobrol-ngobrol sama Si B. Di sini awal mula konflik itu
terjadi. Lewat perasangka yang tak ada dasar, Si B benar-benar menilai Si A itu
sombong, mentang-mentang inilah, mentang-mentang itulah….dan seabreg
perasangaka lainnya. Bahkan sampai berbicara pada orang lain kalau Si A itu
begini dan begitu tanpa ada dasarnya. Sampai Si A mendengar tentang apa yang di
ucapkan B pada teman-temannya. Si A tak terima. Dan akhirnya keduanya saling
membenci. Huft, kalo sudah begini jadi repot. Memang, konflik yang ada dalam
pesantren mungkin cukup tertutup rapat. Nggak sampai terjadi pada fase konflik
mulut apalagi konflik fisik. Tapi, biasanya konflik di pesantren berjalan
dengan adanya sikap enggan untuk menyapa. Jadi, yang bersangkutan saling diam
dalam jangka waktu tertentu. Hmm, payah!!.
Meski satu atap, satu komplek bahkan satu kamar, konflik-konflik seperti
ini sering kali terjadi. Gara-gara perasangka! Semuanya jadi amburadul. Coba
saja kalau semuanya mau sama-sama intropeksi. Si A misalnya, dalam menghadapi
ucapan-ucapan Si B mampu bijak dalam menghadapinya, yaitu menjadikan kritik
sebagai hal belajar untuk memperbaiki kekurangannya. Dan Si A, mencoba
menerapkan husnudzon dalam setiap
prasangkanya, menghargai orang lain dan menjaga lisannya. Dengan seperti itu,
insyalloh, kesenggangan yang seperti itu nggak terjadi dalam satu komunitas
yang masih satu atap ini.
Beginilah realitas santri yang unik. Katanya santri? Kok pada musuhan?
Lho, santri juga manusia. Konflik itu pasti ada. Hidup itu nggak bisa lepas
dari masalah, ya khan? (Inggriiss…!!)
Nah, sekarang tinggal bagaimana menanggapi konflik itu. Kembalikan pada diri
masing-masing. Tanamkan bahwa kita itu semua saudara. Kita semua itu sahabat.
Kita butuh sahabat. Sahabat itu lebih mahal harganya dari pada martabak ( lho kok ?). secara lah, dari sahabat
kita belajar, kita terhibur saat sedih jika kiriman telat datang. Ya nggak? (Inggriiss..) bahkan kita semua yang ada
di pesantren itu saudara. Pantaskah sesama saudara saling membenci? Bermusuhan?
Nah, mari kita pererat tali persaudaraan kita. Hapus prasangka buruk sesama
saudara. Saling menghargai dan saling percaya. Ok lah. Riski.
Komentar
Posting Komentar