cerpen SEPARUH JIWAKU


Separuh Jiwaku....

Bukan kesedihan benar menyayat hati dan jiwa. Bukan duka nestapa yang mengharu birukan luka. Bukan tangis yang menjadi garam bertaburan atas luka yang terkelupas. Tapi, sabar dan tabahmu atas pinta yang terbelenggu. Senyum dan hiburmu saat mimpi menggelap. Dan doa-doamu yang bersenandung merdu luluhkan hati atas keremangan harapan untuk terus maju. Melangkah, menghadapi hidup, menghidupkan hidup, dan memanusiakan kemanusiaanku. Duhai separuh jiwaku….
Saat samudra dunia ini mulai menguji biduk perahu layar kita, kau tambatkan sejuta senyum dan terus kibarkan layar-layar kesetiaan. Gelombang mengoyak peti-peti persediaan, angin besar terus menerpa tanpa belas kasihan pada atap tempat kita bersua nikmati malam-malam. Tapi, jemarimu turut merengkuh jemariku yang kian melemah. Bisikmu menyiram harapan akan pulau yang permai dalam hatiku yang kian hari makin lapuk termakan badai. Dan suara aminmu yang setia mengiringi doa akan kita di setiap malam-malam yang kelam. Semua itu menjadi cahaya dalam tiap langkahku untuk terus mewujudkan mimpi dan harapan kita. Menuju pulau permai yang penuh dengan kebahagiaan, melewati proses panjang penuh dengan cobaan. Duhai separuh jiwaku….
Tiga tahun sudah aku menjadikanmu menjadi separuh jiwaku. Hanya ada aku, kamu, ibu dan ayahku yang mengitariku dalam pelayaran hidup ini. Semenjak kita menikah, kedua orang tuaku menginginkan kita bersamanya. Mereka ingin aku dan kamu ada selalu untuk menemaninya dalam menjelajahi masa senja. Suatu keinginan orang tua yang selalu mengharapkan anak semata wayangnya untuk selalu dekat. Dan kamu, duhai separuh jiwaku, dengan lembut dan senyum manismu talah memberikan mereka kebahagiaan di waktu senja. Kau mampu membantuku untuk berbalas budi, meski budi yang mereka berikan takkan pernah mampu terbalaskan olehku. Terimakasih, duhai separuh jiwaku….
Tapi, betapa berat sebenarnya bagiku, saat aku hanya mampu memberikan sedikit dari hasil keringat yang kukucurkan dalam pencarian nafkah untukmu. Hatiku malu untuk memberikan hasil itu, hanya sedikit, dan kukira belum akan mampu membahagiakanmu, sedang untuk membeli kebutuhan rumah pun harus gali lubang tutup lubang. Kadang malah gali lubang sebelum menutup lubang yang lain. Perih aku melihatmu seperti harus menahan keinginan dan kebahagiaan yang sering ku tunda. Maafkanlah aku, duhai separuh jiwaku….
Ketika langkahku menuju istana kecil kita, sedang hasil yang kubawa hanya mampu untuk esok sore. Terbayang olehku wajah kedua orang tuaku, dan seraut wajah lembutmu yang ku pikir akan muram seketika di sore itu. Tepat di halaman rumah, baru saja ku standarkan sepeda motor butut yang ku gunakan kerja di depan rumah dan akan menuju pintu, dimana salam belum sempat ku ucapkan, dan kau, duhai separuh jiwaku hadir dari balik pintu warna hijau tua itu dengan wajah yang berhias senyum ketulusan, penantian yang penuh keikhlasan, dan sinar mata yang melukiskan kesetiaan. Menantiku, menyambutku dengan siraman kedamaian, meluluhkan lelah,mengusir kerenggangan otot yang mengikat tubuhku.
“Assalamu’alaikum,” salamku untukmu yang menyambutku dan menantikanku dengan senyum yang membuatku terpesona dan menghilangkan rasa lelah dan dahaga.
“wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawabmu lembut seraya meraih tanganku dan kau kecup tepat di punggungnya, menyentuh pucuk merah mahkotamu. Jika kau berikan aku waktu, aku akan mencuci dulu tanganku, dan setelah itu kau kecup sebagai rasa ta’dzimmu padaku, duhai separuh jiwaku. Tapi, belumlah sempat ku cuci tanganku ini, kau raih dan kau kecup tanpa memandang kuman yang riang bersarang. Lalu, matamu mataku bertemu. Ada yang luluh dalam hatiku. Rindu, ya, rindu. Entah mengapa setiap waktu aku selalu menginginkanmu untuk ada di dekatku. Meski baru berapa jam aku meninggalkanmu, tapi hatiku selalu ada untukmu. Duhai separuh jiwaku....
“istirahat dulu, Mas.” Ajakmu sambil mengantarku ke ruang tamu dan kau pergi setelah aku duduk sambil mengipas-kipaskan anyaman bambu yang kau buat untuk kipas berbentuk hati itu . Tak berselang lama, kau kembali hadir dengan senyumanmu yang teduh seraya membawa secangkir kopi yang kau racik dengan penuh ketulusan, kau siram dengan siraman kasih sayang, kau aduk dengan kemesraan, dan kau suguhkan dengan rasa cinta.  Jadilah kopi itu kopi rasa cinta. Didalamnya pun aku mampu belajar darimu, dimana kopi yang hitam itu memiliki unsur yang berlawanan. Mulai dari kopi yang pahit, gula yang manis, dan kemudian di satukan dalam rengkuhan air. Jadilah suatu bentuk kecil dari kesempurnaan. Ya, bentuk kecil dari kesempurnaan, karena masih ada Dia Yang Maha Sempurna. Seperti kata-kata indahmu yang senantiasa membakar semangatku dan menimbun keputus asaanku. Bahwa, kehidupan ini sudah memiliki suatu tahapan dan bingkisan. Ada susah, ada juga bahagia. Keduanya di satukan dalam kehidupan. Maka, menjadi suatu kesempurnaan hiduplah saat kita menemui keduanya. Dan kau katakan, bahwa tak selamanya susah akan meraja, setelah ada kesusahan, asal kita mau berusaha, berdoa dan berserah diri kepada-Nya, insya Alloh kebahagiaan akan menjemput. Ohh, betapa kau sabar dan tabahnya menerima kekuranganku ini. Duhai separuh jiwa….
Dengan lelah dan gerah yang telah kau usir dari jiwaku, perlahan ku berikan hasil keringatku di hari itu.
“hanya sedikit, De.”  ‘De’. Yah, kata itu yang sering ku ambil untuk memanggilmu. Sebuah kata kecil tapi begitu indah kurasakan. Meski telah tiga tahun menikah denganmu, kata itu belum tergantikan untukmu. De, begitu aku memanggilmu. Menjadi sebuah kemesraan yang senantiasa melingkupi rasa cinta dan kasihku terhadapmu. De, duhai separuh jiwa...
“Alhamdulillah, Mas. Ini semua sudah cukup, kok.” Jawabmu meski kutahu itu hanya cukup untuk mengganjal perut empat manusia di hari esok. Senyummu, ya, senyummu itu yang terus kau kembangkan. Kepasrahanmu menerima segala tiba. Puji syukurmu yang tak memandang sedikit atau banyaknya riski. Tak ada tatapan sesal maupun rengek manja atasmu akan segala tuntutan hidup. Meski ku tahu, hasrat rengek manjamu ada dalam fitrahmu, namun kau belenggu. Seperti tak mau sedikitpun membebani pundakku yang hampir melayu, sayu. Maafkan aku, duhai separuh jiwaku....
“Mas, mandilah dulu. Mas pasti capek. Bak mandi sudah Ade isi. Ibu dan Bapak sudah mandi dari tadi. Sekarang, Mas mandi dulu, ya?” ajakmu seraya memberikanku sepotong handuk. Ku tatap mata indahmu. Mata yang memancarkan cahaya ketulusan, sinar kelembutan, dan membiaskan kesetiaan. Subhanalloh, istriku, siapa sebenarnya kau ini? Sebuah pengabdian yang tulus kau berikan padaku, suamimu yang belum mampu memberikanmu kebahagiaan. Aku semakin takjub sekalian takut. Takjub melihat pengabdianmu yang tanpa pamrih, dan takut jika aku kehilanganmu. Istriku, duhai separuh jiwaku....
# # #
Ketika malam mulai merambahi alam dengan kegelapannya, saat itulah bintang gemintang dan rembulan hadir menghibur alam dengan cahyanya. Menemani bisik-bisik dan nyanyian hewan malam yang kesepian, menjadi penerang jalan dalam arungan insan menapaki jalan kehidupan.
Malam itu, ku rebahkan tubuhku di keranjang besi tempat kita terlelap dalam mimpi. Masih terlalu dini untuk menemui mimpi. Sedang suara Aminmu masih terngiang jelas atas doa yang ku senandungkan setelah sholat Isya. Aku imammu, dan kau menjadi makmum tercintaku. Lalu kau hadir kembali membawakanku secangkir kopi. Manis, semanis senyum di raut wajahmu yang senantiasa meneduhkan perasaanku. 
“Mass... ini kopinya.” Suguhmu dengan meletakkannya di atas meja tempatku mencoret-coret lembaran putih bersama mata hati penaku. Coretan yang terbelenggu, tapi kau tak pernah mengusik akan hal itu.
“Mas capek? Kalo capek istirahat, Mas.” Katamu lembut penuh dengan perhatian. Sifat keibuanmu untukku. Kau duduk menyandingku setelah kau kecup kening yang sering terbakar matahari ini.  Dan kau pegang lengan tanganku sambil memijit-mijit perlahan. Betapa indah ku rasakan saat-saat bersamamu. Suami mana yang tak bahagia memiliki separuh jiwa sepertimu, duhai separuh jiwaku....
“nggak, De. Capeknya hilang saat aku melihatmu....” rayuku tersenyum kecil. Kau cubit lenganku saat itu.
“Ahh, mas nggombal.” Balasmu akan ledekku dengan senyum yang khas. Ah, jika saja kau tahu akan hatiku, De, semua kata manis itu bukan saja gombal dan buaiyan semata. Tapi, semua itu lahir dengan cinta. Rasa cinta dan kasih sayang untukmu. Rasa cinta dariku yang rasanya tak sebanding dengan cinta di hatimu dan pengabdianmu yang tulus ikhlas kepadaku. Duhai separuh jiwaku....
“Maas, bukankah malam ini mas ada jadwal ronda?” kembali lagi kau membuatku terkagum. Kau tahu akan segala tentangku, kau mengertikan aku. Sedang aku lupa dengan diriku sendiri. Aku hanya mengangguk pelan seraya menatapmu. Seperti enggan harus kembali meninggalkanmu.
“Mas males, De.”
“lho? Kenapa?”
“Mas masih kangen sama ade.” Jawabku kembali merayu. Ya, kata-kata seperti itulah yang sering menjadikan kita tetap merasa aman dalam memahami perasaan. 
“hmm, alaahh... massa...??” jawabmu yang sering kau ucapkan dan membuatku sering tertawa mendengarnya. Sudah kuduga, kau akan mengatakan itu padaku. Hehe...aku pun tertawa saat aku mendengar jawabanmu. Kata yang entah ke berapa kali kau ucapkan dengan intonasi yang begitu menggoda saraf tawaku.
“he-eh. Apa Ade nggak kangen, sih?”
“bukan begitu, Mamasku... mas juga butuh kumpul-kumpul dengan tetangga. Bersama-sama menjaga lingkungan. Bukankah kita juga punya kewajiban untuk menggauli tetangga dengan baik?”
“jadi, Ade kangen juga, kan?” tanyaku menggodamu.
“He-eh..” jawabmu dengan senyum tersipu malu. Kita tertawa kecil di ruangan segi empat itu. Kemesraan yang mesti harus di jaga di antara kedua belah pihak dalam mengarungi bahtera kehidupan bersama. Agar semakin terpupuknya benih kepercayaan yang akan semakin menyemaikan bunga-bunga kesetiaan yang semerbak mewangi.
Setelah usai aku mencoret-coret lembaran putih yang tak pernah protes yang selalu terdampar di meja kamarku sekaligus kamar separuh jiwaku. Dan berkawan kopi buah dari racikan bidadari inspirasiku, ku cukupkan pengembaran imajinasi malam itu. Terdengar dari dalam ruang tengah akan tawa orang-orang tercintaku yang sedang menikmati sineton di layar TV. Ah, kerukunan yang menyejukkan hatiku. Meski apa adanya, tapi kesabaran mereka akan segala tiba yang memnbuatku terus melaju menghadapi hidup. Tak lama, aku pamit dengan mereka untuk pergi ronda. Selamat tinggal sejenak, ibu, ayah, dan separuh jiwa tercintaku....
###
  Malam semakin temaram saja. Udara dingin semakin menusuk tulangku. Dini hari yang begitu sepi. Usai dari pos kamling, aku langsung pulang menuju istana sederhanaku.
“ckrekk..!” pintu ku buka. Kulihat sosok wanita sedang duduk di atas sofa ruang tamu sambil mengusap-usap kedua matanya. Itulah kamu, Istriku, separuh jiwaku....
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.” Jawabmu agak sedikit serak menahan kantuk.
“Lho, kok Ade tidur di luar? Nggak di dalam kamar saja?” tanyaku mendekatimu yang masih terkaget melihaty kedatanganku.
“Maaf, Mas. Ade ketiduran.” Jawabmu seraya menata rambut indahmu yang sempat terurai bebas.
 “memangnya ada apa?” tanyaku lagi.
“Ade menunggu Mas pulang,” jawabmu dengan sesal karena ketiduran. Subhanalloh, duhai separuh jiwaku....  jika aku tahu kau menungguku dari tadi, aku takkan berlama-lama untuk segera pulang. Aku agak menyesal karena di sana sempat mengulur waktu. Duhai separuh jiwaku, tak semestinya kau begitu menyiksakkan dirimu seperti itu. Aku tak pernah menuntutmu untuk seperti itu. “sebentar, Mas, Ade buatkan kopi dulu buat, Mas.” Katamu seraya bangkit dari tempat duduk di sampingku. Belum sempurna juga kau bangkit berdiri dari sisiku. Ku raih tanganmu, dan mata kita saling beradu.
“De, sudahlah. Aku tak berharap banyak dari pengorbananmu yang selama ini begitu tulus menyertaiku. De, jika saja Ade tahu, Mas justru malu dan sedih dengan ketidaksetaraan kesetiaan dan pengabdian Ade terhadap Mas dan keluarga Mas. Sudah terlalu besar dan berat bagi Ade.”  Kataku seraya menatap haru mata indahnya. Meski kadang kedua kelopak indah itu sering terpejam-pejam menahan kantuknya. “sedangkan,…… sedangkan Mas belum bisa memberikan suatu apapun yang membuat Ade bahagia,” lanjutku.
“Sssstt…” bisikmu dengan menaruh telunjuk tanganmu tepat di bibirku. Mencoba menghentikan perkataanku yang terakhir.
“Mass, kebahagiaan apa yang Mas maksudkan?” tanyamu lembut. “Mass, jika Mas tahu, peran utama dari seorang istri adalah menyandingi seorang suami. Mass, kebahagiaan Ade ada pada pengorbanan Ade terhadap Mas. Bukan kebahagiaan berdasarkan materi. Bagi Ade, cukuplah cinta dan kesetiaan Mas, yang penting Mas jangan berputus asa. Jangan terlalu di fikirkan untuk kebahagiaan Ade, sekarang, Mas fokuslah terhadap pekerjaan Mas dan mimpi-mimpi Mas.” Uhh, semakin meyayat hatiku, duhai separuh jiwaku…. Bagaimana aku, seorang suami yang telah berani meminang dari keluargamu untuk tidak  memikirkan apa yang menjadi kebutuhanmu? Apa yang menjadi kebahagiaanmu? Seorang suami apakah aku ini? Apa kata dunia tentang aku? Sungguh, jika sejarah mampu menuliskan dengan tinta kejujurannya, aku akan menjadi seorang suami yang tidak bertanggung jawab. Sedangkan harga diri bagi seorang pria adalah sifatnya yang berani untuk bertanggung jawab. tidak, De. Tidak.
“Mass, aku tahu. Mas pasti begitu memikirkan tentang kebahagiaan Ade selama ini. Mass, Ade selaku manusia biasa memang terkadang memikirkan materi, tapi, Ade nggak mau memaksa Mas untuk mewujudkan semua itu, nggak Mas!” Lanjutmu memudarkan lamunan. “Mass, sudahlah. Ade bahagia. Sekarang, apakah Mas berani untuk mengumpulkan serpihan-serpihan mimpi Mas yang tercecer di atas meja itu?” tantangmu menunjuk pada kertas-kertas hasil coretan imajinasiku. Kertas-kertas mimpiku. Kembali, Kau duhai separuh jiwaku… memberikanku sebuah kesadaraan untuk mewujudkan mimpiku yang dulu. Sekali lagi, mimpiku, bukan mimpimu!. Mengapa kau, duhai separuh jiwaku, memikirkan tentang diriku dan mimpiku? Bagaiman dengan dirimu dan mimpimu? Ya Alloh, jika kelak kau jadikan aku saksi atasnya, aku akan menjawab dengan penuh keridloanku padanya, bahwa dia, seorang wanita yang ku jadikan istri dan separuh jiwaku telah benar-benar sesuai dengan apa yang Kau perintahkan. Dia, seorang wanita yang menjadi separuh jiwaku, telah berhasil menjadi seorang istri yang menentramkan hati seorang suami. Karena dengan ketenangan itu, aku mampu dengan tenang lebih jauh mengenal-Mu, lebih dengan tenang, merambah malam-malam dalam sujud syukur terhadap-Mu, Robby…..
Setelah malam itu, tahukah kau, duhai separuh jiwaku, kertas mimpi itu bertaburan di langit yang biru. Terbang menuju tempat dimana kertas-kertas tak bersampul itu menjadi satu. Mimpiku, yang selama ini hanya terdiam kaku, telah kau cairkan menuju muaranya. Meski tak sebesar royalty Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya, meski tak setenar Harry Potter-nya  J.K Rowling, dan setebal karya Habiburrohman dengan Ayat-Ayat Cinta-nya. Cukuplah bagiku, kau, duhai separuh jiwaku, menjadi mimpiku untuk selamanya. Karena setelah ku tahu, mimpiku bukan untuk semua itu, tapi, mimpiku adalah, memilikimu. Seorang wanita yang dengan setia menemaniku dalam setiap duka. Wanita yang dengan tulus memberikan cinta dan pengabdiannya terhadap suami yang hidup apa adanya. Itulah kau, duhai separuh jiwaku….
Dan setelah beberapa judul tarian penaku yang  mati dalam folio di hari-hari yang lalu, semuanya kini bersayap. Terbang menuju muara kebahagiaan. Seperti terbang bersama lantunan merdu suara aminmu di sela-sela doa malam-malam yang temaram. Aku menjadi imammu, dan kau menjadi makmum tercintaku,duhai separuh jiwaku…..
Terimakasih, duhai separuh jiwaku….. ketenanganmu memberikanku ketenangan, dan memilikimu menjadi sebuah kebahagiaan. Maka, izinkanlah aku membahagiakanmu dengan hasil yang tak seberapa itu. Tapi, suatu saat, jika aku mampu, untukmu, untuk kebahagiaanmu, Insya Alloh aku akan penuhi… duhai Adeku, duhai istriku, duhai separuh jiwaku…..








 Ruang Tengah, 3 Oktober 2011

 
 



  




Komentar

Postingan populer dari blog ini

fakta-fiktif, "TLEKEMONIKASI"

Menilik Hukum Perdagangan Manusia "Human Trafficking" dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam

makalah bahasa Arab "Al-Mutsanna"