Artikel perdana kepesantrenan.
Masalah untuk
belajar??
Dunia
pesantren adalah dunia yang penuh kemandirian. Dunia pesantren adalah dunia
lika-liku perjalanan menuju kemampuan nalar dalam menangkap realitas hidup.
Dunia yang jauh dari pantauan orang tua, jauh dari sentuhan kasih sayang orang
tua. Tapi, jangan di salah tafsirkan dengan dunia yang jarang mendapatkan kasih
sayang mereka. Kasih sayang mereka justru lebih mampu di rasakan dengan wujud
keberadaan kita dalam dunia pesantren ini.
Dunia
pesantren bukan dunia yang tanpa gejolak. Justru, kadang di pesantrenlah kita
sering mendapatkan berbagai gejolak. Masalah, ya, lewat masalah kadang kita
para santri belajar. Belajar dari masalah bukan hal yang mudah. Tapi belajar
dari masalah mampu memecahkan kekerasan otak kita dan nalar dalam merajut
kemandirian. Siapa sangka kehidupan pesantren penuh dengan gemerlap
kebahagiaan, syarat dengan ketenangan? Justru terkadang kebahagiaan dan
ketenangan terusik dengan adanya masalah yang berasal dari dalam pesantren
sendiri (Intern Problem). Berjubel-jubel
masalah datang menghampiri santri dalam proses belajarnya. Dari mulai masalah
bersosialisasi dengan sesama teman, kecemburuan sosial, ghoshob, kehilangan
sampai masalah keungan yang telat datang. Masalah-masalah seperti diatas
sungguh mampu mempengaruhi proses belajar para santri. Ada pameo yang
mengatakan, “masalah jangan di cari-cari, jika ada masalah jangan lari, tapi
hadapi”. Ya, dengan menghadapi masalah yang ada kita mampu belajar. Hingga
tahap yang paling kritis pun. Karena dengan adanya masalah membuat para santri
kuat. Kuat dalam bertahan menghadapi terpaan-terpaan angin dari efek masalah
yang ada.
Inilah
salah satu nilai positif dari pesantren. Lewat masalah yang ada dalam pesantren
yang menghinggapi para santri membuat para santri hidup dalam kemandirian. Yang
dengan kemandirian hidup yang berawal dalam pesantren, di harapkan para alumni
pesantren mampu menjadi seorang yang mandiri pula dalam kehidupan bermasyrakat
kelak. Mampu lebih arif dan bijak dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat.
Karena kehidupan dalam pesantren yang telah di laluinya sudah begitu syarat
dengan latihan-latihan penyelesaian masalah. Hal ini juga mampu sebagai
penghapus doktrin-doktrin negatif tentang pesantren yang berkembang dalam
masyarakat. Mereka para orang tua merasa enggan memasukkan anaknya dalam pesantren
karena pesantren di nilai tidak mampu menjawab tantangan globalisasi, kurang
mendukung dalam tanggapan masa depan di dunia kerja. Justru sebaliknya,
pendidikan pesantren dengan secara otomatis akan membangun pelajarnya dengan
sikap dan mental yang mandiri. Membuka lapangan kerja, meski dengan awal yang
sulit, mereka akan mampu. Karena hidup mereka yang sering prihatin dalam
pesantren.
Maka,
dengan ini perlu adanya kebijakan dalam menilai dan memandang perihal kehidupan
para santri. Karena kehidupan santri yang masih dalam proses menuju kedewasaan
ini penuh dengan masalah. Lalu, bagaiman dengan santri yang tak sadar dengan masalah? Bahkan
cenderung membuat masalah? Oh, my God. Mungkin mereka juga masih dalam proses.
Proses menuju tangga kepekaan terhadap masalah. Jadi, mereka itu lambat sekali
dalam perjalanan pencarian jati diri. Ah, entahlah. Riski.
alhamdulillaah .. semoga bermanfaat
BalasHapus