artikel PERBAIKAN atau...???
PERBAIKAN ATAU ..........???
Sudah menjadi hal yang sangat lazim kiranya apabila dalam suatu aturan
ataupun norma di selingi dengan adanya konsekuensi. Bagi para Determinis, hal
itu bahkan wajib adanya, guna menyeimbangkan dan mendorong kelancaran sistem
atupun aturan dan tata norma yang telah di berlakukan. Dalam hal ini,
sebenarnya kita telah mengenal dua jenis cara untuk menerapkan suatu
konsekuensi sebagai akomodasi terhadap pelanggaran yang terjadi. Yaitu; koersif,
jenis ini lebih mengutamakan adanya konsekuensi sebagai ancaman terhadap objek
untuk mematuhi aturan maupun norma yang telah di berlakukan. Jenis ini lebih
bersifat keras serta menakut-nakuti dengan ancaman konsekuensi yang akan di
terima oleh para pelaku pelanggaran. Kedua; Persuasif, jenis ini
lebih mengutamakan penyelesaian dengan cara fair dan pendekatan langsung
maupun berkala terhadap Subjek. Pelanggar tidak di takut-takuti dengan ancaman
konsekuensi beruntun yang akan mengenainya, tapi penyelesaian masalah di
lakukan dengan pendekatan secara halus, seperti nasihat ataupun teguran yang di
selingi dengan motivasi untuk kembali kepada peraturan.
Dari sedikit uraian diatas, keduanya memiliki
sisi negatif dan positif tersendiri. Tapi, ada baiknya jika kita mempelajari
ulang keduanya lewat terapan yang bersifat objektif. Dimana kita akan menemukan
sisi negatif dan positif dari keduanya dengan
proporsi yang berbeda. Bisakah??
Model koersif, model
akomodasi jenis ini sebenarnya lebih bisa menunjang terhadap sistem aturan yang
di berlakukan untuk berjalan secara lancar. Kelancaran ini mungkin juga terjadi
karena beberapa faktor. Karena inti dari penerapan preventife ini bersifat
mengancam dan menakut-nakuti. Akan tetapi, jika menarapkan hal ini,perlu banyak
sekali pertimbangan. Salah satunya yaitu dengan melihat objek. Tidak semua
objek mampu untuk memenuhi semua aturan, harus bertahap. Apalagi jika objeknya
adalah para anak muda, mesti butuh adanya pertimbangan secara lebih matang.
Karena jika konsekuensi yang di terapkan cenderung menakut-nakuti bahkan sampai
pada fase mengancam, niscaya mereka merasa di tantang. Bagaimana perasaan para
anak muda jika menanggapi tantangan?? Ya, bisa di katakan relatif. Tergantung
pemuda itu. Tapi, bagaimana jika kita memakai kaca mata pada umumnya?? Hmm,
merasa di tantang, mereka akan menantang. Meski respon dari mereka tidak
terlihat secara jelas, tapi respon tantangan tersebut pasti akan dirasakan.
Kemudian, dari segi psikologis objek,
bagaiman keadaan psikologisnya setelah menerima konsekuensi berat itu? Pasti
berubah. Jika objek tersebut memiliki mental kuat, Insya Alloh mampu bertahan
meski pun sempat Down dalam cukup waktu. Tapi, bagaimana keadaan anak
muda sekarang? Apalagi jika konsekuensi terlihat lebih menonjolkan sisi
hitamnya dengan secara terang-terangan, banyak orang bahkan menjadi ajang
tontonan? Secara umum, keadaan psikologis akan terpengaruhi. Lantas, apa yang
akan di lakukan aparat setelah penerapan konsekuensi tersebut di terapkan??
MEREKA BUKAN UNTUK DI
ANIAYA, MEREKA YANG SALAH BUTUH KITA SELAMATKAN…..!!
Bersambuung……
Komentar
Posting Komentar